Pages

Rabu, 21 Desember 2011

visi mandiri Seorang Penjahit

Sembilan belas tahun lalu, waktu SMA, saya pernah di panggil wali kelas karena menunggak SPP 3 bulan, padahal keluarga saya termasuk keluarga yang mampu.

Ayah saya ketua sebuah partai (PPP waktu itu th 1990 an) dan kita punya usaha garmen keluarga yang cukup menghidupi sembilan anak (empat kakak saya dan empat adik saya).

Saya telat bayar SPP karena memang bandel saja. Saya tidak pernah ngomong minta uang SPP ke orang tua, merekapun karena kesibukan tidak memperhatikan SPP bulanan saya (kalau punya 9 anak dan sekolah semua, mana sempet perhatikan SPP tiap bulan).

Nah ketika itulah saya ditanyai oleh Wali kelas kenapa telat bayar SPP ? Apa karena orang tua tidak mampu ? Apa perlu diajukan dispensasi dan keringanan?

Beliau bertanya lebih lanjut, apa pekerjaan orang tua kamu ?

Saya bingung harus menjawab apa, kalau saya jawab tidak mampu berarti berbohong, kalau saya jawab orang tua saya mampu, nanti dikejar pertanyaan kenapa menunggak 3 bulan ?

Akhirnya saya jawab orang tua saya pekerjaannya penjahit..!.

Ya..saya tidak berbohong, karena kami memang punya usaha garmen dan ayah saya walaupun ketua sebuah partai masih suka motong kain sendiri sebagai bahan jaket dan celana jean produksi kami waktu itu.

Mendengar jawaban saya, ibu wali kelas tidak mengejar lebih lanjut ! saya yakin yang ada di benak beliau adalah memaklumi, karena profesi penjahit pasti orang yang pas pas an saja.

Beliau tidak menyadari bahwa semua orang bisa sukses dan berkecukupan dengan menjadi penjahit. Apalagi kalau yang dijahit hal hal besar..!

Halo ..Ibu Anis, bagaimana kabar Ibu, Apa masih ngajar di SMAN 1 ? semoga ibu selalu sehat dan keluarga juga dilimpahi keberkahan.

Sekarang saya pun sedang dalam posisi bingung menentukan sebenarnya apa sih profesi atau pekerjaan saya ?

Saya adalah Akuntan lulusan UI, tapi dari awal karir pekerjaan saya, tidak pernah sekalipun menjadi akuntan yang menyusun pembukuan. Saya selalu menjadi cost analyst atau auditor di berbagai perusahaan tempat saya bekerja.

Dan setelah menjalani karir sepuluh tahun lebih di area ini, saya baru menyadari bahwa saya tidak terlalu menyukai profesi tersebut.

Ini pula yang menjelaskan kenapa sepanjang karir, saya sudah sembilan kali pindah perusahaan, besar besar pula (KPMG, Freeport, ExxonMobil, IBRA dan lain lain), bahkan saya pernah menjadi tukang koran dan kerja di perusahaan laundry sebagai tenaga packing waktu di Melbourne, Australia.

Saya juga hobi membuat perusahaan, dari berbagai bidang usaha; konveksi, retail garmen, retail elektronik, beternak lele, kontraktor bangunan, consultant SDM dan waralaba CD pendidikan. Satu sama lain tidak berhubungan dan semua menjadi ongkos belajar.

Istri saya pun sering mengkritik saya. Mas ini maunya jadi apa ? kerja pindah pindah, bikin usaha di banyak bidang, semuanya tidak optimal dan tidak fokus, mana bisa berhasil ? begitu katanya.

Kalau sudah begitu, saya mulai agak panas dan mengemukakan seribu satu alasan pembenaran. Walau dalam hati saya mengakui kebenaran kritik istri saya, namun saya juga tahu ada yang salah dengan pendapat itu. Hanya saya belum tahu dimana salahnya ?

Sekarangpun di perusahaan yang saat ini saya bekerja, pekerjaan saya sama sekali tidak berhubungan dengan akuntansi, melainkan ber interaksi dengan petani singkong.

Bagaimana membina kemitraan dengan mereka dan bagaimana memenuhi kebutuhan singkong pabrik, berinteraksi dengan aparat desa, kepolision, koramil dan tokoh adat setempat untuk bersama menciptakan suasana kondusif bagi sebuah kemitraan produktif dan saling menguntungkan.

Padahal saya sama sekali tidak mengerti pertanian, apalagi bertanam singkong skala besar.

Aha ! Di sini saya menemukan diri saya, sebenarnya inilah pekerjaan yang saya sukai, berinteraksi dengan orang orang, berbicara dengan orang dari berbagai strata social, mengidentifikasi kepentingan (needs) mereka dan fokus memberi nilai tambah dari sebuah hubungan !

Dan ternyata pekerjaan saya tersebut adalah profesi seorang penjahit ! ya, Saya Seorang Penjahit….!

Seperti juga profesi ayah saya dulu, yang membedakan adalah media nya. Ayah saya menjahit kain untuk dijadikan baju dan menciptakan nilai tambah. Saya menjahit orang orang, kepentingan kepentingan, menciptakan nilai tambah dan memberi keuntungan semua pihak.

Sekarang saya sudah bisa bilang ke istri, saya adalah orang yang fokus dan hasilnya pasti optimal, saya fokus menjahit ! Menjahit apa saja yang bisa dijahit ! asal memberi nilai tambah dan menguntungkan semua pihak.

Pengalaman ber pindah pindah kerja sembilan kali, pengalaman bikin usaha delapan kali yang selalu tidak optimal, hanyalah sarana dari Tuhan untuk proses pembelajaran menjadi seorang penjahit handal.

Berdasarkan pengalaman hidup saya, untuk menjadi seorang penjahit yang sukses setidaknya ada beberapa poin yang harus kita kuasai :

1. Kemampuan mengidentifikasi kebutuhan (needs) orang atau kelompok
2. Kemampuan menciptakan nilai tambah (value added) sebuah hubungan
3. Kemampuan dan kesabaran memberi keuntungan terlebih dahulu ke mitra kita. Kasih orang lain Win terlebih dahulu, kitapun akan Win

Coba Anda bayangkan, kesuksesan seperti apa yang bisa anda peroleh kalau anda bisa menjahit kepentingan ribuan petani (orang orang kecil), kepentingan lembaga pembiayaan, kepentingan pabrikan dan kepentingan komunitas pendukung lainnya, menciptakan nilai tambah dan memberi keuntungan semua pihak.

Tentu anda akan menjadi orang yang sukses.

Anda bayangkan lagi, kalau bisa menjahit kepentingan orang orang besar, perusahaan perusahaan besar, lembaga lembaga keuangan besar, organisasi sosial, pemerintahan, partai partai. Memberinya nilai tambah. Memberi keuntungan semua pihak.

Saya yakin Anda akan menjadi orang yang lebih sukses lagi !

Dan kalau Anda bisa menjahit kepentingan semua komponen bangsa ini. Memberinya nilai tambah dan menciptakan kemakmuran bagi semuanya. Anda akan menjadi Negarawan dan Pemimpin yang sangat hebat..! Menjadi seorang penjahit yang hebat !

Salam Sukses..! Semoga bermanfaat

0 komentar:

Poskan Komentar